Do’a Pelipur Lara

Allah SWT menciptakan rasa sedih pada setiap mahkluk-Nya. Namun, siapa sangka jika kesedihan yang dialami oleh seseorang yang bertakwa dan beriman kepada Allah SWT adalah sebuah penggugur dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan do’a pelipur lara untuk menenangkan hati. Do’a tersebut sangat dianjurkan untuk dipelajari, karena do’a ini memiliki banyak sekali keutamaan.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

Do’a Pelipur Lara

Saat sedang merasa sedih karena musibah yang dialami, maka salah satu cara yang bisa dilakukan iala dengan membaca do’a pelipur lara.

Seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba ditimpa kegelisahan, kemudian ia berdo’a:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

Allahumma inni ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwalaka, sammayta bihi nafsaka, aw anzaltahu fii kitaabika, aw ‘allamtahu ahadan min kholqika, awis ta’ tsar ta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robbii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa), ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadham-Mu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penentram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.”

Dengan membaca do’a tersebut, niscaya Allah SWT akan menghilangkan kesedihan yang ada di dalam hati. Kesedian tersebut pun nantinya akan diganti dengan kegembiraan.

Kemudian, para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkan kami mempelajari (menghafal) kalimat-kalimat tersebut?”. Beliau menjawab, “Ya, hendaknya siapa saja yang mendengarnya mempelajarinya.” (Riwayat Ahmad/391, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, al-Hakim, dan yang lainnya, dengan sanad yang shahih menurut pendapat dari Al-Albani).

Makna Do’a Pelipur Lara

Untuk membantu memahami dan juga menghayati do’a tersebut, Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimullah kemudian menguraikan kalimatnya satu per satu. Hal tersebut sesuai dengan yang ada dalam al-Fawaid.

Ungkapan Pertama

إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ

“Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, anak hamba perempuan-Mu.”

Ungkapan ini merupakan bentuk merendahkan diri dari seorang hamba di hadapan Tuhan yang Maha Esa.

Selama ini, setiap insan berada di bawah pemeliharaan, pengaturan, perintah dan juga larangan Allah SWT.

Ungkapan Kedua

نَاصِيَتِيْ بِيَدِك

“ubun-ubunku di tangan-Mu.”

Dari ungkapan tersebut, secara tidak langsung merupakan penegasan dari seorang hamba, dimana seolah-olah memiliki maksud, “Engkaulah yang mengendalikan diriku sebagaimana yang Engkau kehendaki.”

Jika seseorang sudah yakin bahwa yang memegang ubun-ubun setiap manusia ialah Allah SWT, maka tidak akan ada orang yang takut dengan orang lain, tidak akan berharap kepara orang lain dan memperlakukan orang tersebut seperti raja.

Setiap orang berpikir bahwa dirinya dan makhluk ciptaan Allah SWT merupakan hamba yang dikuasai serta diatur untuk beribadah kepada Allah.

Ungkapan Ketiga

مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ

“Hukum-Mu berlaku atasku, takdir-Mu adil bagiku.”

Dalam ungkapan ini, di dalamnya terkandung dua hal, yaitu:

  1. Pemberlakuan hukum Allah SWT kepada setiap hamba-Nya.
  2. Pujian yang diberikan kepada-Nya serta makna keadilan-Nya dan bahwa Allah SWT merupakan pemilik tunggal kekuasaan serta segala pujian.

Semua yang difirmankan oleh Allah SWT ialah benar adanya. Bahkan ketentuan-Nya adil, dan juga semua perintah-Nya merupakan sebuah maslahat. Bahkan, semua larangan yang telah ditentukan oleh Allah SWT mengandung kemudharatan.

Hukuman dari Allah SWT diberikan kepada seseorang yang berhak menerima berdasarkan keadilan dan kebijaksaan Allah SWT.

Sementara, pahala dari Allah SWT diberikan kepada siapa saja yang berhak menerima atas dasar karunia serta rahmat yang diberikan oleh Allah.

Rangkaian Kalimat

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْعَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang dengannya Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan (nama itu) di dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan (nama itu) kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang hanya Engkau ketahui sendiri.”

Dari rangkaian kalimat tersebut sebagai bentuk tawasul kepada Allah SWT dengan semua Nama-Nya.

Ini merupakan wasilah yang paling dicintai oleh Allah SWT, karena nama-nama Allah SWT adalah sebuah perantara yang menyiratkan tentang sifat-sifat serta perbuatan-perbuatan-Nya.

Kalimat Permohonan

 أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ وَغًمِّيْ

“Kiranya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, pelipur laraku, serta pengusir kecemasan dan keresahanku.”

Kata  الربيع memiliki arti hujan yang menghidupkan atau menyuburkan bumi.

Dalam do’a tersebut, terkandung permohonan kepada Alah supaya Allah SWT dapat menghidupkan hati Rasulullah SAW dengan Al-Qur’an, serta menerangi cahaya yang ada di dalamnya dengan cahaya Al-Qur’an.

Terdapat 3 hal yang dibenci oleh hati, yaitu:

  1. Apabila berkaitan dengan masa lalu, maka hal tersebut akan memunculkan huzn (kesedihan).
  2. Apabila berkaitan dengan masa depan, maka hal tersebut akan memunculkan hamm (kecemasan).
  3. Apabila berkaitan dengan masa sekarang, maka hal tersebut akan memunculkan ghamm (keresahan).

Dari ketika hal yang dibenci tersebut, maka hendaknya seorang hamba memohon kepada Allah SWT supaya menghilangkan semua hal yang tidak disukai di dalam hatinya. Baik itu yang berkaitan dengan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Do’a Pelipur Lara yang Lainnya

Selain bisa membaca do’a pelipur lara seperti pada penjelasan di atas, Anda juga bisa membaca do’a berikut ini:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani wal ‘ajli wal kasal, wal bukli wal jubni wa dhola ‘iddaini wa gholabatir rijaal.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Al-Bukhari 7/158. Rasulullah SAW senantiasa membaca do’a tersebut, lihat kitab Fathul Baari ///173).

Allah SWT memang menciptakan rasa sedih dan memberikan ujian kepada para hamba-Nya. Namun, untuk menghilangkan kesedihan tersebut dan membuat hati menjadi lebih tenang, Anda bisa membaca dan mengamalkan do’a pelipur lara di atas.

Selain itu, baca pula do’a pagi hari untuk memulai hari Anda supaya selalu diberkahi, dilapangkan rezeki dan dilindungi Allah SWT.

Tinggalkan komentar